Ada rasa yang berbeda saat melihat seorang ahwat atau ummahat sedang berbincang dengan seorang ikhwan. Rasa yang tak di temukan saat melihat seorang wanita berbincang dengan seorang laki-laki. walau awalnya tak peduli namun belakangan pemandangan seperti itu sukses mencuri perhatianku.
Dahulu, saat para pendahulu kita baru memulai tarbiyyah ini, mungkin tak ada diantara mereka yang merasakan atau bahkan sekedar memikirkan hal sepele seperti ini, karena dahulu, konon katanya, interaksi antara ikhwan-akhwat begitu rapih terjaga, bahkan untuk sekedar bertamupun mereka harus masuk lewat pintu yang berbeda.
Namun kini, tak ada alasan untuk tidak mempedulikan fenomena ini, karena semakin hari semakin nyata terlihat melonggarnya batasan hijab diantara mereka-kita.
Coba tengok, seorang ahwat yang menghampiri ikhwan di jalan hanya sekedar untuk menanyakan hasil rapat yang tak bisa dia hadiri. Apakah tidak bisa jika ia bertanya kepada ahwat lain yang menghadiri rapat tersebut. Atau seorang ahwat yang berbincang dengan seorang ikhwan demi urusan dakwah, dengan candaan dan selingan humor penuh keakraban, apakah tidak bisa jika urusan dakwah itu dibicarakn dalam forum yang lebih formal sehingga terlihat keseriusan dalam menangani urusan dakwah ini.
Terlihat sekali bahwa kini sudah tak ada pertimbangan lagi saat seorang ahwat hendak menghampiri ihwan, pun sebaliknya, baik untuk urusan pekerjaan atau sekedar sapaan, apakah akan terlihat risihkah,, terlihat anehkah,, karena saat ini hal itu sudah menjadi suatu hal yang wajar dan biasa.
Ntahlah kawan,, mungkin memang hanya aku saja yang terlalu sensitif dalam melihat masalah, walaupun sebenarnya aku tidak setuju jika dikatakan seperti itu, karena ini bukan semata-mata masalah sensitif atau tidak, tapi ini tentang citra kita, citra tarbiyyah kita, citra dakwah kita.
Kawan...memang akan selalu ada seribu alasan untuk memaksa melegalkan setiap tindakan kita,jangankan tindakan yang tingkat kesalahannya masih samar, bahkan yang sudah jelas-jelas salahpun akan selalu ada pembelaan dibelakangnya. Dorurotlah,,, urgenlah,,, dan yang paling parah berlindung dibalik alasan dakwah.
Kawan,, bukankah hal yang serupa pernah menyisakan kisah pada ulama besar Imam Syafi'i, beliau yang merasa kehilangan konsentrasi dan semangat belajarnya hanya gara-gara TANPA SENGAJA ia pernah melihat aurat perempuan. ya, tanpa sengaja kawan,, lantas bagaiman dengan yang disengaja, efek seperti apakah yang akan diterima...
Kawan,, keberkahan dakwah ini sangat bergantung pada pelaku yang ada didalamnya, jangan sampai kelalaian dan kecerobohan kita berpengaruh pada hilangnya keberkahan dariNya, sehingga kemenangan dakwah inipun selalu tertunda karenanya.....
Kawan,, bukankah hal yang serupa pernah menyisakan kisah pada ulama besar Imam Syafi'i, beliau yang merasa kehilangan konsentrasi dan semangat belajarnya hanya gara-gara TANPA SENGAJA ia pernah melihat aurat perempuan. ya, tanpa sengaja kawan,, lantas bagaiman dengan yang disengaja, efek seperti apakah yang akan diterima...
Kawan,, keberkahan dakwah ini sangat bergantung pada pelaku yang ada didalamnya, jangan sampai kelalaian dan kecerobohan kita berpengaruh pada hilangnya keberkahan dariNya, sehingga kemenangan dakwah inipun selalu tertunda karenanya.....
![]() |
| SuN@RtI |
Betapa indah hidup ini saat kita
jalani dengan penuh keikhlasan. Hari-hari kita hiasi dengan senyuman, sehingga
lelah dan penatpun tak sempat mampir dalam perasaan.
Tak dapat dipungkiri, menjalani
aktifitas sebagai seorang ibu rumah tangga memang butuh tenaga ekstra.
Pekerjaan yang tak pernah ada akhirnya, pekerjaan yang tak terikat jam kerja,
sehingga terkadang duapuluh empat jam penuh dengan kegiatan. Meski demikian,
ternyata tak sedikit orang yang menganggap peran ini bukan sebagai sebuah
pekerjaan, bahkan menurut mereka ibu rumah tangga adalah seorang pengangguran.
Teringat cerita seorang teman
yang merasa agak jengah saat ditanya "ana heran deh sama anti, ngapain aja
sih di dalam rumah, apa gak sayang waktunya dihabiskan di dalam rumah
saja?" Hmm... ternyata sang penanya tidak faham bagaimana kondisi
pekerjaan di dalam rumah, yang dia tahu adalah pekerjaan di kantornya yang bisa
segera ditinggalkan saat jam kerja berakhir.
Butuh sebuah obat yang mujarab
untuk mengobati hati dari ketidak nyamanan seperti ini, dan obatnya ternyata
sudah ada dalam diri kita sendiri yakni keikhlasan.
Kita bekerja bukan demi pujian
atau penilaian dari manusia, karena akan
sangat tidak nyaman saat kita mendapat pujian dari manusia namun tak ada makna
di hadapan yang kuasa. Biarah Dia dengan kemaha adilannya yang menentukan
berapa nilai pekerjaanku di hadapanNya, karena ikhlas itu kita bekerja semata-mata mengharap ridho
dariNya.
“Dan
Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang
mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah)
yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada
kamu apa yang Telah kamu kerjakan.” At-taubah, 105.
Lihat dirimu, adakah sesuatu yg kurang pada fisikmu?
Saat orang lain berjuang untuk bertahn hidup dengan keterbatasan yang
dimilikinya, kau bahkan bisa melangkah bebas penuh percaya diri dengan fisik
yang lebih dari sempurna.
Liht disekitarmu, adakh sesuatu yang
tak kau punya. Setiap mimpimu Alloh jadikan kenyataan, do'amu pun satu persatu
Alloh kabulkan. Jika sesekli kau terima sebuah ujian
Yakinlh bahwa itupun bukti cinta dan
kasih syang dariNya, dan jika di bandingkan frekuensinya jauh lebih jarang di
banding nikmat yang mnyenangkn.
Lantas apa yg bisa kau lakukan untuk
m'balas semua nikmat ini? Namun sesungghnya Alloh tak prnah butuh dengan balasn
dalam bentuk apapun, setiap balasan yang
kau berikan hakikatnya adalah untuk dirimu sendri.
Maka tak kan prnah ada yg rugi dg
b'syukur,dan syukr pulalh yg saat ini hrs kau lkukn, untuk memelihara, merawat,
serta mengundang nikmat2 yg lainnya.
Subscribe to:
Entri (Atom)

.jpg)
.jpg)